Sabtu, 20 Juli 2013
Kamis, 18 Juli 2013
Translate magazine
KEUNTUNGAN JIKA MENJADI ISTRI
NINOMIYA KAZUNARI
• Aku tidak akan pergi kemanapun
Apa? Kau pikir ini menggelikan? Tolong pikirkan baik-baik. Itu artinya kita bisa punya waktu lebih banyak untuk berduaan. Keuntungan yang bagus bukan?
• Kau tidak akan merasa tidak puas
Dari keuntungan yang pertama, aku memperkirakan kau kan tahu bahwa aku tidak bermain di luar. Disamping pergi makan dengan temanu kadang-kadang, pasti aku akan tinggal dirumah. Jadi istriku tidak akan merasa bahwa “Hey, suamiku selalu tidak ada dirumah!”
• Kau bisa punya waktu untuk dirimu sendiri
Istriku bisa melakukan apapun yang dia suka saat aku sibuk bermain game. Ini luar biasa bukan? Kita kadang-kadang mendengar orang-orang mengatakan mereka tidak punya waktu untuk dirinya sendiri setelah menikah, istriku akan punya banyak waktu untuk itu.
• Kau bisa menyelimutiku
Ini keuntungan yang sangat jarang. Aku dengan mudah jatuh tertidur, jadi istriku akan punya kesempatan untuk menyelimutiku. Hal itu akan membuatnya menjadi punya rasa keibuan.
• Kau bisa memperoleh banyak informasi mengenai Johnny’s
Baik, aku seorang Johnny’s. Setelah menikah, aku bisa menceritakannya banyak berita seputar Johnny’s. Dan mungkin punya kesempatan untuk bertemu anggota Arashi seminggu sekali.
Setelah membaca hasil interview di atas, saya benar-benar tidak bisa berkata-kata. Gak tahu deh para pecinta Nino setelah membaca ini bakal mau jadi istrinya atau tidak. Benar-benar khas Nino, maunya untung sendiri.
Kredit : Arashi-daisuki
Kredit : Arashi-daisuki
Selasa, 16 Juli 2013
part 6 Keep It Real
Kurosaki ikut membantu pekerjaan staff VS Arashi, seperti mengangkat-angkat peralatan game. Itu merupakan inisiatif dari Kurosaki sendiri, karena dia merasa bosan karena hanya harus melihat dan menunggu Nino selesai syuting. Para staff pun tidak keberatan karena pekerjaan mereka menjadi terbantu. Kurosaki yang tidak pernah sekalipun diberi ucapan terima kasih oleh seseorang, begitu sangat senang saat salah seorang staff memberikan minuman kaleng atas upah sudah membantu. Jiwa kekanak-kanakannya pun muncul yang membuat dia langsung berlari ke arah Nino,
“Ninomi...Ninomi...aku mendapat jus setelah membantu mengangkat alat-alat!” menunjuk-nunjuk jus kaleng dengan wajah heran tetapi senang. Nino mengacak-acak rambut Kurosaki dengan wajah tersenyum,
“Itu namanya hadiah terima kasih karena sudah membantu. Memangnya kau tidak pernah mendapatkan sesuatu seperti itu?”, menundukkan kepalanya ke arah Kurosaki.
“Setiap yang ku perbuat tidak pernah benar, selalu salah!” setelah berkata seperti itu Kurosaki langsung pergi ke tempat para staff untuk membantu mereka lagi.
Nino tidak bisa memaksa Kurosaki untuk menceritakan semuanya. Tapi Nino cukup senang karena Kurosaki menjadi lebih baik keadaannya dari pertama kali mereka bertemu. Matanya benar-benar kesepian dan putus asa. Sekarang wajahnya menjadi sedikit lebih ceria. Di dalam pikirannya Nino akan sering mengajak Kurosaki untuk ikut syuting sehingga bisa lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Dan akan memasukkan dia ke tim baseball nya Aiba, sehingga Aiba tidak akan terus memaksanya untuk bermain di luar rumah.
Syuting VS Arashi selesai pukul 5 sore. Nino di jemput menggunakan mobil oleh manajernya karena jam 7 malam ada syuting untuk movie Platina Data. Dalam perjalanan, entah kenapa Kurosaki menjadi banyak bicara,
“Ternyata tempat syuting itu luar biasa ya, seorang artis tidak ada gunanya kalau tidak ada staff-staff yang membantu. Tetapi mereka semua luar biasa. Para penonton televisi hanya tahu bahwa artis itu harus menyenangkan, padahal pasti sangat melelahkan. Aku melihat Riida yang setiap ada kesempatan pasti tidur. Hehehehe!” bercerita dengan wajah kekanak-kanakan.
“Riida kita itu memang beda, keahliannya kan bisa tidur dimana saja. Hari ini kau senang ya bisa membantu?”, Nino berkata sambil melirik ke arah Kurosaki. Ketika ingin menjawab pertanyaan Nino, Suzuki tiba-tiba menyela.
“Si bocah gondrong sudah bisa banyak bicara ya.!”
“Ma-na-jer-san! Tolong jangan menyela orang bicara ya.” Suzuki mendengus sambil terus mengemudi.
“Maaf!” tiba-tiba Kurosaki berkata seperti itu membuat Nino dan Suzuki terkejut.
“Maaf atas kelakuanku yang tidak berkenan untuk Manajer-san dan sudah menyusahkan Ninomi karena sudah mau menampungku.” Kurosaki melanjutkan bicaranya.
“Aku akan menerima maafmu jika kau mau menceritakan semua hal tentangmu dan alasanmu tidak mau pulang ke rumah!” Nino mengancam.
Kurosaki membutuhkan waktu yang untuk mulai bercerita, perasaan sakit yang selama ini di terima dari dia kecil begitu sulit untuk diceritakan kembali karena akan membuatnya mengingat hal yang menyedihkan. Nino yang melihat Kurosaki begitu susah untuk bercerita, langsung mengeluarkan Ipod nya dan menyalakan lagu Hatenai Sora. Nino menyuruh Kurosaki untuk mendengarkan lagu tersebut. Nino berkata,
“Setiap aku berbicara ke orang lain pasti kata-kata yang tidak mengenakkan. Makanya aku kasih lagu ini untuk mewakili kata-kataku. Semoga saja kau mengerti Kuro chan.”
Kurosaki mendengarkan lagu tersebut sambil menutup matanya, mendengar alunan suara Arashi yang luar biasa dan bait-bait yang penuh makna membuatnya perlahan-lahan meneteskan air mata. Musik pun berhenti mengalun, Kurosaki membuka matanya dan mengusap air matanya.
“Aku tahu apa maksud Ninomi memberikan lagu ini. Aku harus terus maju kan, tidak usah terjebak oleh masa lalu yang menyedihkan.” diam beberapa saat untuk melanjutkan ceritanya.
“Umurku sebenarnya 13 tahun, bukan 14 apalagi 15 tahun. Dan aku perempuan.” mendengar pernyataan Kurosaki bahwa dia adalah sebenarnya perempuan membuat Nino dan Suzuki benar-benar terkejut.
“Eeeeeeeeee~, jadi kau perempuan. Kenapa kau tidak pernah mengelak saat kami mengira dirimu laki-laki? Dan, kau juga dengan santainya mau tidur di tempat laki-laki tak dikenal sepertiku!” Nino berkata sambil terkekeh-kekeh
“Aku tidak peduli masalah genderku. Setidaknya kalian juga berpikirlah dari rambutku yang panjang ini.”
Suzuki hanya berkomentar, “Kau memang bocah yang luar biasa! Lalu kenapa kau kabur dari rumah?”
“Aku tidak pernah diperlakukan layaknya seorang anak menurutku. Pikiran mereka hanya kesempurnaan. Semua yang kulakukan selalu dianggap salah oleh mereka. Apa kalian tahu, aku tidak pernah menonton televisi atau mendengarkan musik di rumah. Mereka menganggap bahwa hal itu adalah sampah. Di sekolah juga hanya menuntut kesempurnaan oleh orang yang disebut guru di sana. Aku merasa tidak ada gunanya aku tinggal di dunia seperti ini. Keberadaanku tidak pernah di akui, jadi aku lebih memilih mati.”
Melihat Kurosaki bercerita tentang kisah hidupnya dengan tampang yang begitu datar membuat Nino merasa ingin meledak, dan pertama kalinya marah pada Kurosaki,
“Ayumu Kurosaki! Bisa-bisanya kau menceritakan hal menyakitkan seperti itu dengan wajah tertahan. Aku tahu pasti sangat menyakitkan, makanya tidak perlu menahan emosimu dengan berwajah datar seperti itu. Umurmu baru 13 tahun dan kau perempuan, bersikaplah layaknya anak-anak. Kau dapat menangis atau memukul sesuatu, bahkan kalau perlu jambak saja rambut Suzuki!” mendengar namanya disebut, Suzuki tertegun dan hanya bergumam ngomel.
Setelah mendengar omelan Nino yang pertama kalinya, membuat Kurosaki senang karena dia dimarahi dengan perasaan sayang, “Ninomi, bolehkah aku bersikap seperti anak kecil?”.
“Tentu saja, aku rasa 13 tahun masih pantas bersikap seperti itu. Aku rasa kau pasti dipaksa untuk melakukan semuanya secara sempurna sehingga kau terlihat lebih dewasa dari umurmu yang sebenarnya. Dan kau tidak pernah bersikap manja layaknya anak kecil.”
Setelah mendengar jawaban Nino yang seperti itu, dengan tiba-tiba Kurosaki memeluk pinggang Nino, “Dari dulu aku ingin melakukan hal ini pada orang lain. Mereka tidak pernah mengizinkanku melakukannya. Setiap aku sedih hanya bisa memeluk bantal, boneka pun mereka tidak mau membelikannya untukku karena katanya itu permainan yang tidak ada gunanya.”
Awalnya Nino rada kikuk mendapat pelukan yang tiba-tiba seperti itu. Tapi entah kenapa dari peratama kali bertemu timbul rasa sayang dalam dirinya. Rasa sayang karena mempunyai perasaan yang sama yaitu merasa kesepian.
“Kau sangat beruntung Kuro chan, karena bisa memeluk idola nasional sepertiku. Hehehe!”
“Aku tidak akan pulang ke rumah apalagi bertemu dengan mereka, sampai aku mampu berdiri sendiri. Aku tidak mau menjadi alat mereka.” ujar Kurosaki masih sambil memeluk Nino.
“Mereka, mereka! Mereka itu maksudnya orang tuamu ya? Dari tidak mau menyebutkan kata-kata orang tua saja, sepertinya mereka benar-benar kau benci ya. Tapi aku sedikit mengerti karena sudah 2 hari ini belum ada berita kehilangan dirimu!?” tanya Nino.
“Karena mereka sudah punya penggantinya yang lebih sempurna. Ninomi izinkan aku bekerja untukmu, otakku cukup pintar jadi aku tidak akan menyusahkanmu. Aku juga tidak perlu sekolah, hanya perlu membaca buku saja. Kalau masalah tempat tinggal aku bisa tidur dipinggir jalan saja.”
Nino terkejut mendengar kata-kata Kurosaki, “Seenaknya saja kau bicara seperti itu. Umurmu masih 13 tahun dan kau juga seorang perempuan. Kau kira hidup sendiri itu mudah. Aku yang sudah dewasa saja masih kerepotan, bikin makan sendiri, nyuci baju sendiri, bersihin kamar mandi sendiri. Aku sudah terlibat sejauh ini dengan urusanmu. Jadi aku yang akan mengurusmu sampai kau siap untuk berdiri sendiri. Dan kalau sampai nanti orang tuamu menuntutku karena tidak memulangkanmu. Itu akan jadi tanggung jawabmu.”
“Jadi aku masih boleh tinggal di rumahmu? Terima kasih Ninomi, kau memang orang yang berhati mulia.” dengan wajah malu-malunya.
Kehidupan Kurosaki baru dimulai untuk membangun kembali mentalnya yang selama ini begitu rapuh. Masalah belum selesai begitu saja, karena orang tua Kurosaki mempunyai kuasa yang tinggi akan menimbulkan masalah baru. Awan hitam mulai datang ke kehidupan Ninomiya Kazunari sebagai seorang idol nasional.
“Ninomi...Ninomi...aku mendapat jus setelah membantu mengangkat alat-alat!” menunjuk-nunjuk jus kaleng dengan wajah heran tetapi senang. Nino mengacak-acak rambut Kurosaki dengan wajah tersenyum,
“Itu namanya hadiah terima kasih karena sudah membantu. Memangnya kau tidak pernah mendapatkan sesuatu seperti itu?”, menundukkan kepalanya ke arah Kurosaki.
“Setiap yang ku perbuat tidak pernah benar, selalu salah!” setelah berkata seperti itu Kurosaki langsung pergi ke tempat para staff untuk membantu mereka lagi.
Nino tidak bisa memaksa Kurosaki untuk menceritakan semuanya. Tapi Nino cukup senang karena Kurosaki menjadi lebih baik keadaannya dari pertama kali mereka bertemu. Matanya benar-benar kesepian dan putus asa. Sekarang wajahnya menjadi sedikit lebih ceria. Di dalam pikirannya Nino akan sering mengajak Kurosaki untuk ikut syuting sehingga bisa lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Dan akan memasukkan dia ke tim baseball nya Aiba, sehingga Aiba tidak akan terus memaksanya untuk bermain di luar rumah.
Syuting VS Arashi selesai pukul 5 sore. Nino di jemput menggunakan mobil oleh manajernya karena jam 7 malam ada syuting untuk movie Platina Data. Dalam perjalanan, entah kenapa Kurosaki menjadi banyak bicara,
“Ternyata tempat syuting itu luar biasa ya, seorang artis tidak ada gunanya kalau tidak ada staff-staff yang membantu. Tetapi mereka semua luar biasa. Para penonton televisi hanya tahu bahwa artis itu harus menyenangkan, padahal pasti sangat melelahkan. Aku melihat Riida yang setiap ada kesempatan pasti tidur. Hehehehe!” bercerita dengan wajah kekanak-kanakan.
“Riida kita itu memang beda, keahliannya kan bisa tidur dimana saja. Hari ini kau senang ya bisa membantu?”, Nino berkata sambil melirik ke arah Kurosaki. Ketika ingin menjawab pertanyaan Nino, Suzuki tiba-tiba menyela.
“Si bocah gondrong sudah bisa banyak bicara ya.!”
“Ma-na-jer-san! Tolong jangan menyela orang bicara ya.” Suzuki mendengus sambil terus mengemudi.
“Maaf!” tiba-tiba Kurosaki berkata seperti itu membuat Nino dan Suzuki terkejut.
“Maaf atas kelakuanku yang tidak berkenan untuk Manajer-san dan sudah menyusahkan Ninomi karena sudah mau menampungku.” Kurosaki melanjutkan bicaranya.
“Aku akan menerima maafmu jika kau mau menceritakan semua hal tentangmu dan alasanmu tidak mau pulang ke rumah!” Nino mengancam.
Kurosaki membutuhkan waktu yang untuk mulai bercerita, perasaan sakit yang selama ini di terima dari dia kecil begitu sulit untuk diceritakan kembali karena akan membuatnya mengingat hal yang menyedihkan. Nino yang melihat Kurosaki begitu susah untuk bercerita, langsung mengeluarkan Ipod nya dan menyalakan lagu Hatenai Sora. Nino menyuruh Kurosaki untuk mendengarkan lagu tersebut. Nino berkata,
“Setiap aku berbicara ke orang lain pasti kata-kata yang tidak mengenakkan. Makanya aku kasih lagu ini untuk mewakili kata-kataku. Semoga saja kau mengerti Kuro chan.”
Kurosaki mendengarkan lagu tersebut sambil menutup matanya, mendengar alunan suara Arashi yang luar biasa dan bait-bait yang penuh makna membuatnya perlahan-lahan meneteskan air mata. Musik pun berhenti mengalun, Kurosaki membuka matanya dan mengusap air matanya.
“Aku tahu apa maksud Ninomi memberikan lagu ini. Aku harus terus maju kan, tidak usah terjebak oleh masa lalu yang menyedihkan.” diam beberapa saat untuk melanjutkan ceritanya.
“Umurku sebenarnya 13 tahun, bukan 14 apalagi 15 tahun. Dan aku perempuan.” mendengar pernyataan Kurosaki bahwa dia adalah sebenarnya perempuan membuat Nino dan Suzuki benar-benar terkejut.
“Eeeeeeeeee~, jadi kau perempuan. Kenapa kau tidak pernah mengelak saat kami mengira dirimu laki-laki? Dan, kau juga dengan santainya mau tidur di tempat laki-laki tak dikenal sepertiku!” Nino berkata sambil terkekeh-kekeh
“Aku tidak peduli masalah genderku. Setidaknya kalian juga berpikirlah dari rambutku yang panjang ini.”
Suzuki hanya berkomentar, “Kau memang bocah yang luar biasa! Lalu kenapa kau kabur dari rumah?”
“Aku tidak pernah diperlakukan layaknya seorang anak menurutku. Pikiran mereka hanya kesempurnaan. Semua yang kulakukan selalu dianggap salah oleh mereka. Apa kalian tahu, aku tidak pernah menonton televisi atau mendengarkan musik di rumah. Mereka menganggap bahwa hal itu adalah sampah. Di sekolah juga hanya menuntut kesempurnaan oleh orang yang disebut guru di sana. Aku merasa tidak ada gunanya aku tinggal di dunia seperti ini. Keberadaanku tidak pernah di akui, jadi aku lebih memilih mati.”
Melihat Kurosaki bercerita tentang kisah hidupnya dengan tampang yang begitu datar membuat Nino merasa ingin meledak, dan pertama kalinya marah pada Kurosaki,
“Ayumu Kurosaki! Bisa-bisanya kau menceritakan hal menyakitkan seperti itu dengan wajah tertahan. Aku tahu pasti sangat menyakitkan, makanya tidak perlu menahan emosimu dengan berwajah datar seperti itu. Umurmu baru 13 tahun dan kau perempuan, bersikaplah layaknya anak-anak. Kau dapat menangis atau memukul sesuatu, bahkan kalau perlu jambak saja rambut Suzuki!” mendengar namanya disebut, Suzuki tertegun dan hanya bergumam ngomel.
Setelah mendengar omelan Nino yang pertama kalinya, membuat Kurosaki senang karena dia dimarahi dengan perasaan sayang, “Ninomi, bolehkah aku bersikap seperti anak kecil?”.
“Tentu saja, aku rasa 13 tahun masih pantas bersikap seperti itu. Aku rasa kau pasti dipaksa untuk melakukan semuanya secara sempurna sehingga kau terlihat lebih dewasa dari umurmu yang sebenarnya. Dan kau tidak pernah bersikap manja layaknya anak kecil.”
Setelah mendengar jawaban Nino yang seperti itu, dengan tiba-tiba Kurosaki memeluk pinggang Nino, “Dari dulu aku ingin melakukan hal ini pada orang lain. Mereka tidak pernah mengizinkanku melakukannya. Setiap aku sedih hanya bisa memeluk bantal, boneka pun mereka tidak mau membelikannya untukku karena katanya itu permainan yang tidak ada gunanya.”
Awalnya Nino rada kikuk mendapat pelukan yang tiba-tiba seperti itu. Tapi entah kenapa dari peratama kali bertemu timbul rasa sayang dalam dirinya. Rasa sayang karena mempunyai perasaan yang sama yaitu merasa kesepian.
“Kau sangat beruntung Kuro chan, karena bisa memeluk idola nasional sepertiku. Hehehe!”
“Aku tidak akan pulang ke rumah apalagi bertemu dengan mereka, sampai aku mampu berdiri sendiri. Aku tidak mau menjadi alat mereka.” ujar Kurosaki masih sambil memeluk Nino.
“Mereka, mereka! Mereka itu maksudnya orang tuamu ya? Dari tidak mau menyebutkan kata-kata orang tua saja, sepertinya mereka benar-benar kau benci ya. Tapi aku sedikit mengerti karena sudah 2 hari ini belum ada berita kehilangan dirimu!?” tanya Nino.
“Karena mereka sudah punya penggantinya yang lebih sempurna. Ninomi izinkan aku bekerja untukmu, otakku cukup pintar jadi aku tidak akan menyusahkanmu. Aku juga tidak perlu sekolah, hanya perlu membaca buku saja. Kalau masalah tempat tinggal aku bisa tidur dipinggir jalan saja.”
Nino terkejut mendengar kata-kata Kurosaki, “Seenaknya saja kau bicara seperti itu. Umurmu masih 13 tahun dan kau juga seorang perempuan. Kau kira hidup sendiri itu mudah. Aku yang sudah dewasa saja masih kerepotan, bikin makan sendiri, nyuci baju sendiri, bersihin kamar mandi sendiri. Aku sudah terlibat sejauh ini dengan urusanmu. Jadi aku yang akan mengurusmu sampai kau siap untuk berdiri sendiri. Dan kalau sampai nanti orang tuamu menuntutku karena tidak memulangkanmu. Itu akan jadi tanggung jawabmu.”
“Jadi aku masih boleh tinggal di rumahmu? Terima kasih Ninomi, kau memang orang yang berhati mulia.” dengan wajah malu-malunya.
Kehidupan Kurosaki baru dimulai untuk membangun kembali mentalnya yang selama ini begitu rapuh. Masalah belum selesai begitu saja, karena orang tua Kurosaki mempunyai kuasa yang tinggi akan menimbulkan masalah baru. Awan hitam mulai datang ke kehidupan Ninomiya Kazunari sebagai seorang idol nasional.
...
Senin, 15 Juli 2013
Translation Magazine
TV Life, Arashi Talk
Aiba : Kita melakukan training camp di danau Yamanaka sebelumnya, aku ingin melakukannya hal itu lagi.
Jun : Kemana kau ingin pergi?
Aiba : Eeee??? Aku belum memikirkannya.
Nino : Danau apa?
Sho : Danau seperti apa yang kau inginkan untuk melakukan training camp?
Aiba : Karena itu training camp, jadi kita harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, misalnya belajar koreografi. Kita bisa melakukannya di Tokyo, tetapi lebih baik untuk kita pergi ke luar negeri dan latihan di sana.
Nino : Tidak, tidak, tidak, yang aku tanyakan itu danau apa?
Aiba : Danau apa? Jadi kita hanya bisa melakukannya di dekat danau?
Sho : Loch Ness?
Nino : Aaaa, jika di luar negeri ya.
Aiba : Loch Ness? Jadi ayo kita latihan koreografi di sana!
Nino : Karena Loch Ness sangat besar
Aiba : Riida akan membuat koreografi untuk kita
Jun : Kita bisa melakukan itu di Jepang
Aiba : Tidak, tidak, maksudku kita bisa pergi untuk buang-buang waktu
Sho : A~,, itu sudah pasti, training cam sebelumnya sama
Aiba : Itu luar biasa
Nino : Jadi kau hanya ingin pergi ke luar negeri
Aiba : Hahahahah
Sho : Misterimu telah terpecahkan (tertawa)
Jun : Jika kita punya kesempatan untuk pergi bersama, aku ingin kita semua pergi ke Hawai, seperti yang selalu aku katakan sebelumnya
Ohno : Pulau itu kenangan kita
Jun : karena kita debut disana
Aiba : Seperti rumah kedua kita (tertawa)
Sho : Tetapi, kita tidak tahu bagaimana Hawai terhadap kita (tertawa)
Nino : Barangkali semuanya akan menertawakan hal tersebut, tetapi bahwa kenyataannya, Hawai adalah rumah kedua kita
Televisi : Apa yang akan kalian lakukan di Hawai?
Aiba : Tidak bisakah kita latihan koreografi?
Jun : Sangat panas di sana
Aiba : Aaaaa kau benar, pasti panas
Jun : Lebih baik jika kita bermain banana boat
Nino : Itu bagus, berhenti latihan, karena semuanya akan merasa malas melakukan hal itu
Aiba : Kemudian kita berenang?
Sho : Pakaian Hawai banyak
Aiba : Ayo berenang bersama! Kita semua!
Televisi : Bagaimana dengan tantangan training camp?
Aiba : Ya berenang (tertawa)
Jun : Itu sulit (tertawa)
Aiba : Berenang...training camp macam apalagi yang kita punya
Jun : Tapi, kita pergi sejauh itu untuk training camp, ayo pilih target kita
Ohno : Apa yang kita lakukan di training camp kemarin?
Sho : Kita melakukan rekaman dan bermain petualangan di hutan
Ohno : Itu menyenangkan, tapi perlu melakukan beberapa program untuk melakukannya?
Sho : Karena kita punya hak istimewa merekam video (tertawa)
Ohno : Jadi target training camp berikutnya adalah membangun kekuatan fisik kita, dimulai dari awal
Jun : Jika kau berbicara membangun fisik kuat, setiap orang punya caranya sendiri untuk berlatih
Ohno : Ayo kita melakukannya dengan cara kita sendiri
Sho : Jika kita melakukannya dengan bebas, kita benar-benar tidak akan pernah melakukannya
Nino : Jika melakukannya sendiri-sendiri, jadi training camp tidak ada artinya donk. Ayo kita melakukan perjalanan pribadi nanti
Sho : Ayo hentikan pembicaraan tentang itu (tertawa)
Kredit : Yun-Miyake.Livejournal
Pembicaraan diatas ga jelas ujung pangkalnya.
Interview Magazine
Special Interview Ohno Satoshi
Drama SP
Drama SP dimana Ohno bermain sebagai seseorang yang menderita kanker, kita datang ke lokasi syuting untuk interview.
“Syuting hari ini hanya ada aku, ku pikir. Kita syuting di luar, hujan turun dengan deras (tertawa). Aku jadi terkejut dengan kenyataan bahwa aku benar-benar seorang laki-laki hujan. Ketika aku pergi keluar, hujan mulai turun, jadi kita menunda pengambilan gambar selama beberapa waktu, kemudian saat hujan berhenti kita lanjutkan, jadi aku mengganti bajuku dan make up, tetapi ketika aku keluar, hujan turun lagi, akhirnya kita berhenti. Ketika aku sudah pulang ke rumah, hujan berhenti, itu benar-benar sangat aneh, aku jadi merasa bersalah (tertawa).”
Drama ini mengenai seseorang yang akan menghadapi kematiannya, bagaimana perasaanmu ketika membaca skrips?
“Ini pertama kali aku bermain menjadi orang sakit dan menghadapi kematian, tetapi aku punya sesuatu yang mirip dengan Kouta (nama peran yang dimainkan oleh Ohno). Pertama kali membaca skrips, aku merasa bahwa dia mirip denganku. Karena itu bisa terjadi pada siapa saja, jika aku harus menghadapi kematian, aku akan melakukan hal yang sama seperti Kouta. Aku ingin menghabiskan sisa hariku dengan keluargaku, tertawa dengan mereka, menghadapi hariku seperti biasa. Aku ingin mengganti hari dimana aku tidak bisa bertemu mereka dengan sisa hariku. Bagaimanapun, aku tidak berpikir aku bisa bertemu keluargaku sampai syuting berakhir. Aku memikirkan banyak hal mengenai hal itu. Aku ingin banyak orang yang menontonnya dan berpikir tentang ceritanya lagi.”
“Kita bisa menemukan rasa terima kasih terhadap keluarga dan sebuah perasaan bahwa kita tidak sendiri dalam drama ini. Aku akan senang jika penonton bisa berpikir keatas tentang pentingnya hari-hari kita, meskipun yang paling normal.”
Kita bisa menemukan Kouta yang botak dalam drama ini!
“Kita merencanakan menggunakan make up khusus untuk menutupi kepalaku, untukku sendiri, kalau rambutku di cukur sampai botak sih ga apa-apa karena nanti kan akan tumbuh lagi. Dan kalau misalnya nanti benar-benar botak, aku ingin mereka mengambil gambarku dengan waktu yang lama (tertawa). Aaaa tidak, aku tidak bisa melakukan itu! Jika mereka benar-benar melakukan itu, aku pasti akan melakukan cut berkali-kali, contohnya jika aku tertawa, jadi kita akan mengulanginya kembali (tertawa).
Kredit : Yun-Miyake, livejournal
Sabtu, 13 Juli 2013
Interview Magazine
Keuntungan Jika Menjadi Istri Aiba Masaki
Berikutnya yang mau menjadi istrinya Aiba Masaki, anggota Arashi yang begonya alami. Mungkin hubungannya bukan seperti suami istri ya, karena kerjaannya cuma main-main doank si Aiba.
• Bisa masuk kebun binatang dengan gratis
Aku sering punya kesempatan untuk mengunjungi kebun binatang dalam pekerjaanku, jadi aku bisa menunjukkan padamu semua kebun binatang di seluruh dunia. Aku akan mengatakan padamu bahwa itu gratis, tetapi diam-diam aku akan membayarnya (tertawa)
• Aku akan BBQ denganmu
Selama BBQ di camp, aku yang akan menyalakan apinya. Aku juga bisa mempersiapkan daging dan sayuran, dan saat sudah siap aku akan member tahumu. Tetapi… jika mungkin aku harap kau bisa menolongku menyiapkan tenda…(tertawa)
• Kita bisa menjadi sangat menyenangkan
Aku bagus dalam membuat atmosfer menyenangkan, nanti ketika hanya tinggal kita berdua, aku punya kepercayaan diri bahwa kita bisa bersenang-senang seperti halnya saat ada teman-teman kita. Sedikit menyenangkan jika kita melakukan hal bodoh hanya kita berdua (tertawa)
• Aku akan membelikanmu oleh-oleh
Aku sering punya kesempatan pergi ke banyak tempat. Aku akan membelikanmu oleh-oleh kapanpun. Contohnya makanan, atau mungkin T-shirt yang aku beli sama seperti anggota yang lain (tertawa)
• Aku akan melakukan apapun untukmu
Sepanjang aku bisa melakukannya, aku akan melakukannya untukmu. Contohnya, aku sangat lemah kalau bangun pagi, tetapi jika kau ingin aku bangun lebih pagi, aku akan berusaha.
Kredit : Arashi-daisuki
Review buku
212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe
Buku ini saya pinjam di perpustakaan daerah DKI Jakarta, bagus banget dibaca sebagai pengetahuan mengenai nama-nama daerah di Jakarta. Jadi, dibuku ini dijelaskan asal-usul nama-nama daerah yang ada di Jakarta, misalnya Kalideres (daerah saya tinggal) itu berasal dari suatu kali bernama Mookervart (saya sendiri baru tahu kalau kali di dekat rumah namanya ini ^^), kali ini pada zaman dulu alirannya sangat deras, oleh karena itu dinamakan Kalideres.
Selain dijelaskan asal-usul nama daerah, di buku ini juga disajikan gambar-gambar Jakarta tempo dulu.
Buku ini memiliki kekurangan di bagian tata nama bahasa latin suatu jenis makhluk hidup. Menurut tata nama binomial nomenclatur dalam bidang biologi, seharusnya nama jenis itu huruf awal kata pertama harus besar dan kata kedua kecil, tulisan juga dimiringkan. Tetapi dalam buku ini tidak disajikan seperti itu. Kalau untuk orang awam yang membaca mungkin biasa saja. Tetapi untuk orang yang mempelajari biologi, penamaan itu sedikit membuat risih (bawaannya pengen marah aja!).
Saya sarankan untuk para pejabat dan masyarakat yang tinggal di daerah Jakarta perlu membaca buku ini. Agar jika ditanya oleh orang asing, kita bisa menjawabnya. Karena itu akan mempengaruhi apakah kita peduli terhadap daerah tempat tinggal kita dan peduli terhadap sejarah kita.
Langganan:
Postingan (Atom)










